Nama : Rani.A.Simbolon
Semester
: III (Tiga)
Mata
kuliah : Psikologi Umum
Dosen
: Pst. David. B.Hasibuan M.Th
Judul
buku : Psikologi Anak
Penulis
: Dr. Kartini Kartono
TINJAUAN
KRITIS
KEDUDUKAN
ILMU JIWA ANAK
DAN
LATAR
BELAKANG HISTORISNYA
Kartini
menjelaskan bahwa, Ilmu jiwa anak dan
ilmu jiwa masa muda, kedua-duanya disebut sebagai ilmu JIWA GENETIS atau ILMU JIWA PERKEMBANGAN.;
kedua-duanya merupakan bagian dari psikologi. Saya sebagai pembaca menyetujui dari pengertian diatas, Pengertian
sederhana dari argumen diatas merupakan manusia mengalami sifat-sifat yang
karakteristik, perbedaan- perbedaan tertentu dan adanya ciri-ciri khusus pada
anak manusia. Dan hal ini terbukti dengan adanya taraf perkembangan anak
manusia itu memang selalu berlainan sifat dan ciri-cirinya.
Oleh
karena adanya perbedaan sifat dan ciri-ciri setiap perkembangan tersebut
sehingga manusia membuat sistematika dari tiga jenis psikologi yaitu :
a. Psikologi
Genetis atau psikologi perkembangan(psikologi anak); dan ini dimulai dengan
periode masa bayi, anak pemain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode
adolesens menjelang dewasa.
b. Psikologi
Umum yaitu psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia budaya yang normal
dan dewasa.
c. Gerontologi
yaitu ilmu jiwa yang mempelajari semua permasalahan yang terdapat pada usia
tua.
Untuk
lebih jelasnya KARTINI menuliskan perkembangan ilmu jiwa anak tersebut. Untuk
itu kita akan melihat latar belakang historisnya yaitu menyoroti proses
perkembangannya ditengah ilmu jiwa lama/ kuna dan selanjutnya di tengah ilmu
jiwa modern.
Ilmu jiwa lama atau ilmu jiwa sebelum 1900, bisa
disebut sebagai ilmu jiwa asosiasi, yang
berpendapat bahwa jiwa itu adalah pasif sifatnya. Kejiwaan bisa diselidiki
dengan metode-metode yang dipakai dalam penelitian ilmu alam. Khususnya
mempelajari sebab akibat, menurut hukum-hukum kausalitas. Dan ilmu jiwa
berpendirian , bahwa setiap peristiwa psikis itu merupakan akibat langsung dari
perangsang-perangsang fisik yang berasal
dari luar ; sehingga terjadi perubahan- perubahan dalam organisme
manusia dan dalam susunan urat syarafnya.
Dan
menurut ilmu jiwa kuna, keseluruhan adalah sama dengan jumlah (totalitas) dari
bagian-bagian nya. Oleh karena itu proses kejiwaan yang yang lebih tnggi
tarafnya (seperti berpikir, menghayal, menimbang, merasa, berkemauan dan
lain-lain) itu terbentuk karena adanya hubungan dan kombinasi dari unsur- unsur
yang disebut dengan asosiasi. Dan oleh pendirian semacam ini ilmu kuna disebut
sebagai ilmu jiwa asosiasi.
Sehubungan
dari penjelasan diatas bahwa KARTINI memandang anak terus-menerus sebagai objek
penelitian, yaitu mereka meneliti proses-proses jiwa dan gejala-gejala
kesadaran yang umum, terlepas dari orangnya atau subjek yang menampilkan
gejala-gejala psikis tadi.
Saya
sebagai pembaca memahami bahwa mereka menyamakan pribadi anak dengan gejala
fisik lainnya. Lagi pula ilmu jiwa kuna menganggab anak sebagai orang dewasa
dalam bentuk kecil (mini). Anak yang “status kedudukannya” belum orang dewasa
ini dianggab tidak ada bedanya dengan orang dewasa. Maka bentuk mini tersebut masih harus tumbuh dan bertambah besar, agar
bisa serupa betul dengan bentuk manusia dewasa.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa ilmu jiwa kuna Cuma mempelajari tingkat-tingkat
perkembangan menurut usia saja, serta gejala-gejala jiwa yang sifatnya umum.
Dan tidak memandang anak sebagai totalitas psiko-fisik, yang menurut hakekatnya
sangat berlainan struktur kejiwaannya dengan kejiwaan orang dewasa.
Bahkan
saya melihat bahwa stuktur kejiwaan anak dan manusia dewasapun juga berlainan
pada setiap masa perkembangan mereka. Ringkasnya ilmu jiwa lama itu kurang
mempertimbangkan anak sebagai subjek yang tengah berkembang.
Sebaliknya
KARTINI ilmu jiwa modern/Baru yang pada dasarnya mempunyai pendirian yang
sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu jiwa asosiasi dengan tegas
mengemukakan pendirian sebagai berikut : totalitas keseluruhan itu adalah lebih
daripada jumlah bagian-bagiannya, setiap peristiwa kejiwaan itu tidak dapat
dipisahkan dari subjeknya: tidak bisa diceraikan dari pribadi seseorang anak
(anak) yang menampilkan peristiwa kejiwaan tadi.
Dari
penjelasan diatas bahwa saya memahami ilmu jiwa modern ini sifatnya subjektif:
dan memandang jiwa sebagai tenaga batiniah yang kreatif dinamais serta aktif.
Ilmu jiwa modern menyatu padukan semua proses kejiwaan menjadi satu totalitas
berarti dan mempunyai fungsi tersendiri.
Jiwa
dianggab sebagai pusat tenaga batin yang membarikan nafas kehidupan pada
manusia dengan segenap tingkah lakunya; dan membuat manusia jadi seorang
individu yang khas unik, serta berbeda dengan orang/subjek lain. Selanjutnya
Kartini menjelaskan bahwa barang siapa hendak memahami manusia lain dan mau
mengerti hakekat anak, hendaknya ia bisa menyelami sampai pada pusat tenaga
batin (jiwa) tadi dengan menggunakan metode pemahaman atau metode VERSTEHEN.
Untuk menyelami perasaan dan kehidupan batin
orang lain, harus ada kemampuan pada diri kita guna menyatukan batin sendiri
dengan batin subyek lain itu. Dan menurut saya sebagai pembaca kemampuan
semacam ini merupakan keterampilan khusus yang tidak dimiliki oleh setiap
orang. Dan ilmu jiwa modern/baru pada
abad ke-19 ilmu jiwa anak mulai dipelajari secara intensif sebagai ilmu
pengetahuan. Bahwa sepanjang masa, anak selalu ada disamping orang dewasa.
Dan
masa depan orang dewasa ditentukan oleh mutu anak-anak pada masa “sekarang”. Artinya
bahwa orang dewasa akan memberikan pola asuh yang baik dan pembentukan yang
diterima oleh anak sangat lah berfedah kelak untuk masa depannya. Dan nantinya
juga berpengaruh terhadap hakekat manusia
(pribadi sendiri) dengan begitu kita akan bisa memahami Arti Dan Makna
kehidupan semakin mendalam.
sebagai
contoh ; kelahiran seorang bayi merupakan peristiwa hadirnya seorang manusia
baru, dimana 40 hari minggu sebelumnya dia masih berwujud sebuah sel tunggal
belaka dalam rahim ibunya. Pada saat kelahirannya dia tampak berdaya sama
sekali. Banyak aktivitasnya kelihatan seperti tidak bertujuan. Namun beberapa
minggu kemudian , bahkan beberapa hari ataupun beberapa jam setelah
kelahirannya, bayi tadi sudah menunjukkan ciri-ciri dan kegiatan yang khas.
Lambat laun gerak-gerak dan perilakunya berubah anekaragam atau bervariasi.
Antara lain berwujud; menggerakgerakkan bola matanya, memalimgkan wajah,
menggerakkan bola matanya, memalingkan wajah, menggerakkan secara teratur
tangannya dan kakinya, memiringkan badan, melunggup,sampai berjalan dan
bermain-main dan lain-lain. Dan hingga pada akhirnya mendapatkan pola asuh yang
baik.
Dan
ini juga akan memberikan faedah bagi orang tua. Yaitu dapat memberikan makna
dan arti.yaitu memberikan nilai, kepuasan, kebanggan dan rasa penyempurnaan
diri dan semuanya ini di dapatkan karena keberhasilan orang tua terutama sang
Ibu yang melahirkan anak keturunandan yang akan melanjutkan cita-cita dan
harapan serta Eksistensi hidupnya.
Dan
pada abad ke 18 juga anak-anak dipandang sebagai orang dewasa lugu dalam bentuk
kecil; berbadan kecil, berakal belum sempurna, dan memerlukan waktu untuk mekar
berkembang. Bahkan umpamanya mempunyai potongan persis sama dengan pakaian
orang dewasa; Cuma bentuk nya lebih kecil dan baru saja anak-anak mengenal
huruf-huruf sudah disodori buku-buku cerita sandiwara gubahan pejangga
terentius atau buku-buku filsafat Plato dan Sokrates.
Kurang
setuju kalau anak hanya dipandang sebagai manusia dewasa mini-format (dengan
pakaian, gaya, tingkah laku, fikiran perasaan, kehidupan batin, dan lain-lain
yang sama dengan orang dewasa) . karena menurut saya anak-anak itu merupakan
pribadi yang unik khas, yang berbeda sekali dengan pribadi manusia dewasa.
Lagipula anak-anak tersebut memiliki sifat-sifat serta dinamika yang khas pula.
Sehingga
pada abad ke -19 tujuan akhir pendidikan ialah mengisi otak anak-anak
sebanyak-banyaknya, dengan pengetahuan orang dewasa dalam waktu
sesingkat-singkatnya. Juga KURANG SETUJU dalam hal ini karena memang tidak masuk
akal orang dewasa, bahwa keadaan anak batin anak, tanggapan, fikiran,
pengamatan, fantasi dan segala kebutuhan psikis pada setiap taraf perkembangan
anak itu pada hakekatnya SANGATLAH BERBEDA dengan keadaan orang dewasa. Karena
itu bahan pelajaran dan metode mengajarpun disamakan dengan cara dan metode
mengajar orang dewasa.
Karna sangat sulit jika pola ajar anak dan dewasa
disamakan. Karena secara teori dan praktisnya pun ada tahap-tahap ajar yang
dilakukan dan diterapkan oleh setiap pengajar terhadap anak ataupun disebut
kelas (tingkatan) baik di sekolah dan tidak tertutup kemungkinan bagi pengajar
Guru Sekolah Minggu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar