Senin, 30 September 2013

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Nama              : Rani.A.Simbolon
Semester         : III (Tiga)
Mata kuliah   : Psikologi Umum
Dosen              : Pst. David. B.Hasibuan M.Th
Judul buku    : Psikologi Anak
Penulis            : Dr. Kartini Kartono

TINJAUAN KRITIS

KEDUDUKAN ILMU JIWA ANAK
DAN
LATAR BELAKANG HISTORISNYA

 Kartini menjelaskan bahwa,  Ilmu jiwa anak dan ilmu jiwa masa muda, kedua-duanya disebut sebagai ilmu  JIWA GENETIS atau ILMU JIWA PERKEMBANGAN.; kedua-duanya merupakan bagian dari psikologi. Saya sebagai pembaca menyetujui dari pengertian diatas, Pengertian sederhana dari argumen diatas merupakan manusia mengalami sifat-sifat yang karakteristik, perbedaan- perbedaan tertentu dan adanya ciri-ciri khusus pada anak manusia. Dan hal ini terbukti dengan adanya taraf perkembangan anak manusia itu memang selalu berlainan sifat dan ciri-cirinya.
Oleh karena adanya perbedaan sifat dan ciri-ciri setiap perkembangan tersebut sehingga manusia membuat sistematika dari tiga jenis psikologi yaitu :
a.       Psikologi Genetis atau psikologi perkembangan(psikologi anak); dan ini dimulai dengan periode masa bayi, anak pemain, anak sekolah, masa remaja, sampai periode adolesens menjelang dewasa.
b.      Psikologi Umum yaitu psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia budaya yang normal dan dewasa.
c.       Gerontologi yaitu ilmu jiwa yang mempelajari semua permasalahan yang terdapat pada usia tua.
Untuk lebih jelasnya KARTINI menuliskan perkembangan ilmu jiwa anak tersebut. Untuk itu kita akan melihat latar belakang historisnya yaitu menyoroti proses perkembangannya ditengah ilmu jiwa lama/ kuna dan selanjutnya di tengah ilmu jiwa modern.
            Ilmu jiwa lama atau ilmu jiwa sebelum 1900, bisa disebut sebagai ilmu jiwa asosiasi, yang berpendapat bahwa jiwa itu adalah pasif sifatnya. Kejiwaan bisa diselidiki dengan metode-metode yang dipakai dalam penelitian ilmu alam. Khususnya mempelajari sebab akibat, menurut hukum-hukum kausalitas. Dan ilmu jiwa berpendirian , bahwa setiap peristiwa psikis itu merupakan akibat langsung dari perangsang-perangsang fisik yang berasal  dari luar ; sehingga terjadi perubahan- perubahan dalam organisme manusia dan dalam susunan urat syarafnya.
Dan menurut ilmu jiwa kuna, keseluruhan adalah sama dengan jumlah (totalitas) dari bagian-bagian nya. Oleh karena itu proses kejiwaan yang yang lebih tnggi tarafnya (seperti berpikir, menghayal, menimbang, merasa, berkemauan dan lain-lain) itu terbentuk karena adanya hubungan dan kombinasi dari unsur- unsur yang disebut dengan asosiasi. Dan oleh pendirian semacam ini ilmu kuna disebut sebagai ilmu jiwa asosiasi.
Sehubungan dari penjelasan diatas bahwa KARTINI memandang anak terus-menerus sebagai objek penelitian, yaitu mereka meneliti proses-proses jiwa dan gejala-gejala kesadaran yang umum, terlepas dari orangnya atau subjek yang menampilkan gejala-gejala psikis tadi.
Saya sebagai pembaca memahami bahwa mereka menyamakan pribadi anak dengan gejala fisik lainnya. Lagi pula ilmu jiwa kuna menganggab anak sebagai orang dewasa dalam bentuk kecil (mini). Anak yang “status kedudukannya” belum orang dewasa ini dianggab tidak ada bedanya dengan orang dewasa. Maka bentuk mini tersebut  masih harus tumbuh dan bertambah besar, agar bisa serupa betul dengan bentuk manusia dewasa.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ilmu jiwa kuna Cuma mempelajari tingkat-tingkat perkembangan menurut usia saja, serta gejala-gejala jiwa yang sifatnya umum. Dan tidak memandang anak sebagai totalitas psiko-fisik, yang menurut hakekatnya sangat berlainan struktur kejiwaannya dengan kejiwaan orang dewasa.
Bahkan saya melihat bahwa stuktur kejiwaan anak dan manusia dewasapun juga berlainan pada setiap masa perkembangan mereka. Ringkasnya ilmu jiwa lama itu kurang mempertimbangkan anak sebagai subjek yang tengah berkembang.
Sebaliknya KARTINI ilmu jiwa modern/Baru yang pada dasarnya mempunyai pendirian yang sangat bertentangan dengan prinsip-prinsip ilmu jiwa asosiasi dengan tegas mengemukakan pendirian sebagai berikut : totalitas keseluruhan itu adalah lebih daripada jumlah bagian-bagiannya, setiap peristiwa kejiwaan itu tidak dapat dipisahkan dari subjeknya: tidak bisa diceraikan dari pribadi seseorang anak (anak) yang menampilkan peristiwa kejiwaan tadi.
Dari penjelasan diatas bahwa saya memahami ilmu jiwa modern ini sifatnya subjektif: dan memandang jiwa sebagai tenaga batiniah yang kreatif dinamais serta aktif. Ilmu jiwa modern menyatu padukan semua proses kejiwaan menjadi satu totalitas berarti dan mempunyai fungsi tersendiri.
Jiwa dianggab sebagai pusat tenaga batin yang membarikan nafas kehidupan pada manusia dengan segenap tingkah lakunya; dan membuat manusia jadi seorang individu yang khas unik, serta berbeda dengan orang/subjek lain. Selanjutnya Kartini menjelaskan bahwa barang siapa hendak memahami manusia lain dan mau mengerti hakekat anak, hendaknya ia bisa menyelami sampai pada pusat tenaga batin (jiwa) tadi dengan menggunakan metode pemahaman atau metode VERSTEHEN.
 Untuk menyelami perasaan dan kehidupan batin orang lain, harus ada kemampuan pada diri kita guna menyatukan batin sendiri dengan batin subyek lain itu. Dan menurut saya sebagai pembaca kemampuan semacam ini merupakan keterampilan khusus yang tidak dimiliki oleh setiap orang.  Dan ilmu jiwa modern/baru pada abad ke-19 ilmu jiwa anak mulai dipelajari secara intensif sebagai ilmu pengetahuan. Bahwa sepanjang masa, anak selalu ada disamping orang dewasa.
Dan masa depan orang dewasa ditentukan oleh mutu anak-anak pada masa “sekarang”. Artinya bahwa orang dewasa akan memberikan pola asuh yang baik dan pembentukan yang diterima oleh anak sangat lah berfedah kelak untuk masa depannya. Dan nantinya juga berpengaruh terhadap hakekat manusia  (pribadi sendiri) dengan begitu kita akan bisa memahami Arti Dan Makna kehidupan semakin mendalam.
sebagai contoh ; kelahiran seorang bayi merupakan peristiwa hadirnya seorang manusia baru, dimana 40 hari minggu sebelumnya dia masih berwujud sebuah sel tunggal belaka dalam rahim ibunya. Pada saat kelahirannya dia tampak berdaya sama sekali. Banyak aktivitasnya kelihatan seperti tidak bertujuan. Namun beberapa minggu kemudian , bahkan beberapa hari ataupun beberapa jam setelah kelahirannya, bayi tadi sudah menunjukkan ciri-ciri dan kegiatan yang khas. Lambat laun gerak-gerak dan perilakunya berubah anekaragam atau bervariasi. Antara lain berwujud; menggerakgerakkan bola matanya, memalimgkan wajah, menggerakkan bola matanya, memalingkan wajah, menggerakkan secara teratur tangannya dan kakinya, memiringkan badan, melunggup,sampai berjalan dan bermain-main dan lain-lain. Dan hingga pada akhirnya mendapatkan pola asuh yang baik.
Dan ini juga akan memberikan faedah bagi orang tua. Yaitu dapat memberikan makna dan arti.yaitu memberikan nilai, kepuasan, kebanggan dan rasa penyempurnaan diri dan semuanya ini di dapatkan karena keberhasilan orang tua terutama sang Ibu yang melahirkan anak keturunandan yang akan melanjutkan cita-cita dan harapan serta Eksistensi hidupnya.
Dan pada abad ke 18 juga anak-anak dipandang sebagai orang dewasa lugu dalam bentuk kecil; berbadan kecil, berakal belum sempurna, dan memerlukan waktu untuk mekar berkembang. Bahkan umpamanya mempunyai potongan persis sama dengan pakaian orang dewasa; Cuma bentuk nya lebih kecil dan baru saja anak-anak mengenal huruf-huruf sudah disodori buku-buku cerita sandiwara gubahan pejangga terentius atau buku-buku filsafat Plato dan Sokrates.
Kurang setuju kalau anak hanya dipandang sebagai manusia dewasa mini-format (dengan pakaian, gaya, tingkah laku, fikiran perasaan, kehidupan batin, dan lain-lain yang sama dengan orang dewasa) . karena menurut saya anak-anak itu merupakan pribadi yang unik khas, yang berbeda sekali dengan pribadi manusia dewasa. Lagipula anak-anak tersebut memiliki sifat-sifat serta dinamika yang khas pula.

Sehingga pada abad ke -19 tujuan akhir pendidikan ialah mengisi otak anak-anak sebanyak-banyaknya, dengan pengetahuan orang dewasa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Juga  KURANG  SETUJU dalam hal ini karena memang tidak masuk akal orang dewasa, bahwa keadaan anak batin anak, tanggapan, fikiran, pengamatan, fantasi dan segala kebutuhan psikis pada setiap taraf perkembangan anak itu pada hakekatnya SANGATLAH BERBEDA dengan keadaan orang dewasa. Karena itu bahan pelajaran dan metode mengajarpun disamakan dengan cara dan metode mengajar orang dewasa.
            Karna sangat sulit jika pola ajar anak dan dewasa disamakan. Karena secara teori dan praktisnya pun ada tahap-tahap ajar yang dilakukan dan diterapkan oleh setiap pengajar terhadap anak ataupun disebut kelas (tingkatan) baik di sekolah dan tidak tertutup kemungkinan bagi pengajar Guru Sekolah Minggu.